Saturday, April 30, 2011

ada apa dengan dengki

Hati-hati dengan Dengki Kenapa iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as? Sebab, iblis sangat dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis. Rasulullah SAW ber...sabda, "Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang muslim yang rakus terhadap harta dan dengki terhadap agama. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu". (HR. At-Tirmidzi) Seorang pendengki hidupnya tidak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan muak kepadanya. Jika kelak mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat hina di hadapan Allah. Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan terbalik, sehingga neraka Jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang akan Allah timpakan kepada seorang pendengki.. Apakah dengki itu? Secara garis besar sifat ini terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, dengki yang diharamkan. Seseorang merasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain dan merasa bahagia kalau orang lain mendapat musibah. Atau setidaknya, ia menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ini dengki yang diharamkan, karena sifat seperti ini termasuk ke dalam tingkatan ketiga dari penyakit hati. Kedua, dengki yang diperbolehkan berupa rasa iri kepada kenikmatan orang lain, tapi tidak ingin menghilangkan kenikmatan tersebut darinya. Melihat orang lain memiliki rumah bagus, kita merasa iri ingin pula memiliki hal yang sama dan tidak dengan cara menjadikan orang tersebut jatuh miskin. Keinginan seperti ini wajar-wajar saja selama tidak bergeser menjadi perasaan tidak enak, yang berlanjut pada hasrat ingin melenyapkan kenikmatan orang tersebut. Bahkan, "kebolehan" merasa dengki seperti ini insya Allah akan berpahala bila kita berbuat. Pertama, ketika melihat orang berilmu dan gemar mengamalkan ilmunya, giat berdakwah dengan penuh keikhlasan, dan kita pun menginginkan untuk berbuat seperti itu. Kedua, ketika melihat orang kaya yang gemar membelanjakan hartanya di jalan Allah, lantas kita menginginkan berbuat hal serupa. Dengki biasanya akan berpasangan dengan keadaan yang dihadapi pemiliknya. Mahasiswa akan dengki kepada sesama mahasiswa. Orang pintar akan dengki kepada orang yang pintar lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, akan sulit terjadi seseorang merasa dengki terhadap orang lain yang memiliki kapasitas berbeda. Secara umum ada empat hal yang bisa menyebabkan munculnya sifat dengki, yaitu: pertama, kebencian dan permusuhan. Sifat ini bisa muncul karena pernah disakiti, difitnah, salah satu haknya dilanggar, atau sebab-sebab lain yang merugikan diri sendiri. Kedua, hadirnya naluri untuk selalu lebih dari orang lain. Naluri ini merupakan jalan tol menuju penyakit dengki. Seseorang yang merasa pakaiannya paling bagus misalnya, akan mudah dihinggapi rasa dengki ketika melihat ada orang yang pakaiannya lebih bagus dan lebih mahal daripada yang dipakai dirinya. Kita hidup seharusnya seperti orang memandikan mayat. Ia akan senang bila ada yang membantu. Ketika berkiprah dalam dakwah, hendaknya kita bersyukur tatkala ada saudara seiman yang memiliki misi yang sama, dan ditakdirkan ilmu dan jamaahnya lebih banyak dari kita. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisaa: 32, ''Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.'' Penyebab dengki yang ketiga adalah ambisi kepemimpinan. Obsesi ingin selalu memimpin yang disertai ambisi untuk merebut pucuk pimpinan adalah sarana yang paling rawan munculnya kedengkian. Bahkan bisa menjadi awal hancurnya sebuah negara dan umat. Karena itu, dalam konteks kepemimpinan umat, orang yang pertama kali terbenam ke dalam neraka adalah ulama-ulama pendengki yang selalu berambisi menjadi pemimpin dan mengejar popularitas. Munculnya kedengkian dalam hati para ulama dan pemimpin umat sedikit demi sedikit akan menghapuskan cita-cita luhur untuk mewujudkan ittihadul ummah; persatuan umat dalam cahaya Islam. Dalam QS Al-Hujurat ayat 12 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Penyebab keempat adalah akhlak yang buruk. Orang yang buruk akhlaknya akan kikir berbuat kebaikan dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Jika melihat sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan menggerutu dan sibuk menyalahkan. Orang seperti ini hidupnya akan selalu sengsara, dan di akhirat nanti akan mendapatkan transfer pahala yang ia miliki kepada orang yang didengkinya. Rasulullah menyebutnya sebagai orang bangkrut, mufhlis. Ia membawa pahala kebaikan, tapi pahala itu habis untuk menggantikan dosa yang diperbuatnya pada orang lain. Oleh karena itu, Ibnu Sirrin pernah berucap, "Saya tidak sempat dengki di dunia ini. Kengapa saya harus dengki, apalagi perkara di dunia dan terlebih lagi dengki kepada orang saleh? Bukankah dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat nanti. Apa perlu kita dengki? Wallahu a'lam bish-shawab. ( KH Abdullah Gymnastiar )

Wednesday, April 27, 2011

kasih bunda

Lihat cermin itu bunda,,,

Seraut wajah berlumur kasih sayang

Sorot matanya penuh keikhlasan

Dengan keriput yang terlukis indah

Membuatnya semakin cantik laksana bidadari



Lihat bunda,,,

Senyum keteduhan selalu bertahta di bibirnya

Menambah kharisma di setiap lekuk wajahnya

Membuat semesta menghormat takjim padanya



"Siapa dia sayang"

Suara yang lembut menerobos relung jiwaku

Suara yang selalu membuatku patuh tanpa paksa

Suara yang selalu ku rindu jika jauh darimu

Suara yang tersirat kasih nan tulus

Itu suaramu bunda,,,Hmm,,

Aku tersenyum menggodamu

" Menurut bunda,

siapa gambaran yang ada dalam cermin??"

"Dia nafas hidup ku,

Tempat aku bercerita dan bercanda"

"Dia tumpuan dalam setiap doa-doa ku,

Tempat pemujaan ku atas nikmat dari Sang Penguasa Jiwa"

"Dia itu engkau bunda ku tersayang,

Yang selalu memelukku dengan selendang kasih mu"

Itu engkau bunda

Itu engkau,,



Kasih dan keikhlasan yang kau curahkan pada kami

Tak pernah terkikis di telan masa

Cinta yang kau beri kepada kami

Seperti matahari yang selalu menghangatkan di sepanjang usiamu

Ketulusan yang engkau beri, tak mampu aku membalasnya

Dengan selendang kasih yang selalu kau hamparkan

Engkau ajari aku makna hidup yang sesungguhnya

Meski terkadang kau masih menganggap aku gadis kecilmu

Tapi rasa hormat dan kasih ku tercurah untukmu

Terima kasih bunda,,

Terima kasih,,

Selendang kasihmu akan menjaga di sepanjang hidupku



~~~~~~

teruntuk bunda q dan bunda2 di seluruh jagat raya,, :))





Friday, April 22, 2011

Menata Hati 2

Hati Lembut Dan Jernih





Ya Rabb, betapa banyak aku telah bermaksiat pada-Mu, namun Engkau tidak juga menghukumku, begitulah penuturan sebagian rahib Bani Israel. Padahal sebenarnya Allah SWT telah banyak memberi hukuman kepadamu, akan tetapi engkau tidak juga menyadari. Sesungguhnya balasan keburukan adalah keburukan yang serupa!, demikian menurut Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam bukunya ‘al-Hasanah wa as-Sayyiah’.



Gersang


Musibah terbesar adalah merasa aman setelah melakukan perbuatan dosa. Padahal sanksi itu tidak diturunkan secara langsung. Siksa terbesar bagi seseorang adalah jika ia tidak dapat menyadari dosa-dosanya, terserabutnya nilai-nilai agama darinya, kerasnya hati, dan salah memilih amal untuk
kepentingan jiwanya. Buah dari itu semua adalah sehat jasmani dan cita-citanya tercapai, akan tetapi hatinya keras dan sakit.



Sebagai contoh, sebagian orang tidak mendapatkan taufiq sehingga tidak menjalankan shalat subuh dalam rentang waktu yang lama. Atau ia teledor dalam menaati kedua orang tuanya, sehingga engkau mendapatinya sebagai orang yang paling durhaka kepada keduanya. Atau engkau melihatnya senantiasa berbuat maksiat atau bahkan telah akrab dengannya, akan tetapi ia tidak juga merasa sakit dan atau terluka parah karena dosa-dosa itu (‘Wahatul Imah’ karya Abdul Humaid al-Bilal).



Fenomena demikian terjadi di sekitar kita. Secara fisik, ia sehat dan bahkan dunia datang kepadanya dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Lalu ia tertipu dan terlena olehnya sehingga membuat ia ingkar kepada Allah SWT sehingga hatinya menjadi mati bukan hanya keras, kasar dan gersang saja akan tetapi betul-betul mati.



Ia tidak juga menyadari luka yang telah kronis, lumuran dosa dan kotoran maksiatnya. Ia seperti mayit yang tidak dapat merasakan apapun. Seorang penyair pernah berkata. Bagi yang hina, kesalahan-kesalahan itu biasa sebagaimana mayit tidak merasa sakit jika terluka.



Putih Hitam





Sahabatku... jika engkau berharap hatimu baik, maka dengar dan berjalanlah bersama kehendak dan hasrat yang terdetik dalam hatimu. Turutilah suara hati yang baik dan jauhi yang tidak benar, hasrat-hasrat ke arah maksiat tersebut merupakan tangga menuju kesesatan, bahaya dan fitnah yang dapat menjadikan hati menjadi keras.



Rasulullah SAW bersabda: Fitnah-fitnah itu menimpa hati secara perlahan dan bertahap, maka hati mana yang paling dapat dipengaruhi, maka tertoreh padanya noda hitam, hingga sabdanya: “Sehingga menjadi dua jenis hati; putih seperti sesuatu yang sangat jernih hingga tidak dapat terpengaruh fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan kedua, hitam (dan ini yang paling rentan kena fitnah) ia seperti wadah yang terikat miring, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali sesuai nafsunya.” (HR. Imam Muslim dalam Kitab Fatan, 1990).





Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengomentari hadis tersebut dengan ucapannya, fitnah-fitnah yang mengancam dan menimpa hati merupakan penyebab sakitnya hati. Pertama, syahwat, sikap menyimpang, maksiat-maksiat dan kedzaliman. Kedua, fitnah syubhat, kesesatan, bid’ah dan kebodohan. Jenis fitnah pertama berimplikasi pada rusaknya niat dan tujuan, sedang fitnah kedua yang berakibat rusaknya ilmu seseorang serta akidahnya.



Dua Saksi Adil





Memang, hati itu dihinggapi sebuah keinginan, hanya dengan tuntutan al-Qur’an dan as-Sunnah ia dapat tenang dan bening, seperti kata seorang penyair, Setiap hasrat hati timbanglah dulu dengan timbangan syari’at. Jika termasuk yang diperintahkannya, segeralah kerjakan Bila termasuk yang dilarang, itu dari syaitan, segeralah jauhi.



Kini tiba saatnya kita mengukur dan bercermin kaidah tersebut, kita akan mendapati betapa banyak terlintas di benak, nurani dan pikiran kita sejumlah keinginan, hasrat, gagasan dan kemauan untuk kita lakukan, akan tetapi sudahkah kita bersikap dengan sengaja – dengan segala hasrat tersebut – sebagaimana kaidah di atas, yaitu menghadirkan dua saksi adil, yaitu al-Quran dan as-Sunnah kemudian menimbang keselarasannya dengan keduanya.





Jika bersesuaian, kita dengan penuh semangat melakukannya dan bila bertentangan dengannya segera saja kita tinggalkan dan hindari. Sehingga dengan itu,hati kita selamat dan dipenuhi dengan cahaya keimanan dan akhirnya berubah menjadi hati yang jernih dan lembut.



Abu Bakar misalnya, ia seorang yang mudah menangis di saat shalat, maka ia disebut sebagai ‘orang yang hatinya lembut dan peka sehingga bacaan yang dibacanya hampir tak dapat dipahami lantaran tangis dan getar perasaannya yang sangat peka’



Maka peliharalah hatimu sahabatku dari kesesatan dan penyimpangan sesudah jelas bagimu hal itu.